Minggu, 28 Juni 2015

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA



PROBLEMATIKA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA

  A.  Problema Pendidikan Multikultural di Indonesia
Problema Pendidikan Multikultural di Indonesia memiliki keunikan yang tidak sama dengan problema yang dihadapi oleh  negara lain. Problem ini mencakup hal-hal kemasyarakatan yang akan dipecahkan dengan Pendidikan Multikultural dan problem yang berkaitan dengan pembelajaran berbasis budaya. Problem tersebut dapat dijadikan bahan pengembangan Pendidikan Multikultural di Indonesia ini.
Problema kemasyarakatan pendidikan multikultural di Indonesia antara lain:
  1. Keragaman Identitas Budaya Daerah
Keragaman ini menjadi modal sekaligus potensi konflik. Keragaman budaya daerah memang memperkaya khasanah budaya dan menjadi modal yang berharga untuk membangun Indonesia yang multikultural. Namun kondisi budaya itu sangat berpotensi memecah belah dan menjadi lahan subur bagi konflik dan kecemburuan sosial. Masalah itu muncul jika tidak ada komunikasi antar budaya daerah. Tidak adanya komunikasi dan pemahaman pada berbagai kelompok budaya lain ini justru dapat menjadi konflik. Konflik-konflik yang terjadi selama ini di Indonesia dilatar belakangi oleh adanya keragaman identitas etnis, agama dan rasa, misalnya peristiwa Sampit. Keragaman ini dapat digunakan oleh provokator untuk dijadikan isu yang memancing persoalan.
Dalam  mengantisipasi  hal  itu,  keragaman yang ada harus diakui sebagai sesuatu yang mesti ada dan dibiarkan tumbuh sewajarnya. Selanjutnya, diperlukan suatu manajemen konflik agar potensi konflik dapat terkoreksi secara dini untuk ditempuh langkah-langkah pemecahannya, termasuk di dalamnya melalui Pendidikan Multikultural. Adanya Pendidikan Multikultural itu diharapkan masing-masing warga daerah  tertentu bisa mengenal, memahami, menghayati dan bisa saling berkomunikasi.
  1. Pergeseran Kekuasaan dari Pusat ke Daerah
Sejak dilanda arus reformasi dan  demokratisasi, Indonesia dihadapkan pada beragam tantangan baru yang sangat kompleks. Satu di antaranya yang paling menonjol adalah persoalan budaya. Dalam arena budaya, terjadinya pergeseran kekuasaan dari pusat ke daerah membawa dampak besar terhadap pengakuan budaya lokal dan keragamannya. Bila pada masa Orde baru, kebijakan yang terkait dengan kebudayaan masih tersentralisasi, maka kini tidak lagi. Kebudayaan, sebagai sebuah kekayaan bangsa, tidak dapat lagi diatur oleh kebijakan pusat, melainkan dikembangkan dalam konteks budaya lokal masing-masing. Ketika sesuatu bersentuhan dengan kekuasaan maka berbagai hal dapat dimanfaatkan untuk merebut kekuasaan  ataupun melanggengkan kekuasaan itu, termasuk di dalamnya isu kedaerahan.
Konsep  “putra  daerah” untuk menduduki pos-pos penting dalam pemerintahan sekalipun memang merupakan tuntutan yang demi pemerataan kemampuan namun tidak perlu diungkapkan menjadi sebuah ideologi. Tampilnya putra daerah dalam pos-pos penting memang diperlukan agar putra-putra daerah itu ikut memikirkan dan berpartisipasi aktif dalam  membangun daerahnya. Harapannya tentu adalah adanya asas kesetaraan dan persamaan. Namun bila isu ini terus menerus dihembuskan justru akan membuat orang terkotak oleh isu kedaerahan yang sempit. Orang akan mudah tersulut oleh isu kedaerahan. Faktor pribadi (misalnya iri, keinginan memperoleh jabatan) dapat berubah menjadi isu publik yang destruktif ketika persoalan itu muncul di antara orang yang termasuk dalam putra daerah dan pendatang.           
Konsep  pembagian  wilayah  menjadi propinsi atau  kabupaten baru yang marak terjadi akhir-akhir ini selalu ditiup-tiupkan oleh kalangan tertentu agar mendapatkan simpati dari warga masyarakat. Mereka menggalang kekuatan dengan memanfaatkan isu kedaerahan ini. Warga menjadi mudah tersulut karena mereka berasal dari kelompok tertentu yang tertindas dan kurang beruntung.
  1. Kurang Kokohnya Nasionalisme
Keragaman budaya ini membutuhkan adanya kekuatan yang menyatukan (“integrating force”) seluruh pluralitas negeri  ini. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, kepribadian nasional dan ideologi negara merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi dan berfungsi sebagai  integrating force. Saat ini Pancasila kurang mendapat perhatian dan kedudukan yang semestinya sejak isu kedaerahan semakin semarak. Persepsi  sederhana dan keliru banyak dilakukan orang dengan menyamakan antara Pancasila itu dengan ideologi Orde Baru yang harus ditinggalkan. Pada masa Orde Baru kebijakan dirasakan terlalu tersentralisasi, sehingga ketika Orde  Baru tumbang, maka segala hal yang menjadi dasar dari Orde Baru dianggap jelek, perlu ditinggalkan dan diperbarui, termasuk di dalamnya Pancasila. Tidak semua hal yang ada pada Orde Baru jelek, sebagaimana halnya tidak semuanya baik. Ada hal-hal yang tetap perlu dikembangkan. Nasionalisme perlu ditegakkan namun dengan cara-cara yang edukatif, persuasif dan manusiawi bukan  dengan pengerahan kekuatan. Sejarah telah menunjukkan peranan Pancasila yang kokoh untuk menyatukan kedaerahan ini. Bangsa Indonesia sangat membutuhkan semangat nasionalisme yang kokoh untuk meredam dan menghilangkan isu yang dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa ini.

MOTIVASI PEMBELAJARAN BAGI SISIWA



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbicara tentang mutu pendidikan yang rendah salah satunya disebabkan oleh kurangnya motivasi dalam diri siswa untuk belajar karena rendahnya daya serap atau prestasi belajar, atau belum terwujudnya keterampilan proses dan pembelajaran yang menekankan pada peran aktif peserta didik, inti persoalannya adalah pada masalah “Ketuntasan belajar” yakni pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap kompetensi secara perorangan. Masalah ketuntasan belajar merupakan masalah yang penting, sebab menyangkut masadepan peserta didik, terutama mereka yang mengalami kesulitan belajar.
Permasalahan motivasi belajar siswa merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas motivasi ditunjukan dengan beragamnya faktor yang terlibat. Di sisi lain, motivasi siswa juga bersifat unik,  karena siswa yang berbeda dan sekolah yang berbeda dapat menghadapi permasalahan yang sama namun dengan profil yang  berbeda. Motivasi belajar siswa merupakan  hal yang amat penting bagi pencapaian kinerja atau prestasi belajar siswa. Dalam hal ini, tentu saja menjadi tugas dan kewajiban guru untuk senantiasa dapat  memelihara dan meningkatkan motivasi belajar siswanya
Sebagai guru, pendekatan kelas dan individual perlu dikuasai agar mampu mengembangkan motivasi belajar siswa. Metode yang “tidak biasa”, kreativitas berimprovisasi dalam pembelajaran, dan ketrampilan perlu dikembangkan sebagai respon terhadap kebutuhan siswa yang semakin berkembang.
B.     Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan motivasi ?
2. Apa saja fungsi dan macam-macam dari monivasi ?
3. Bagaimana pelaksanaan  dari kegiatan motivasi ?
4. Apa strategi untuk motivasi belajar siswa ?
C.     Tujuan
1. Mengetahui arti dari motivsi.
2. Mengetahui pelaksanaan dari kegiatan motivasi.
3. Mengetahui macam-macam motivasi.
4. Mengetahui apa strategi untuk motivasi belajar siswa.

KEBUDAYAAN DAN HUKUM ADAT KELAHIRAN PADA MASYARAKAT MELAYU KAYUNG KABUPATEN KETAPANG KALIMANTAN BARAT



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pada saat ini, pemahaman akan adat istiadat dan hukum adat sangatlah penting. Adat istiadat akan mengajarkan kepada kita bagaimana kita hidup sebagai anggota masyarakat harus bersikap dan bertindak, memberi petunjuk bagi kita tentang mana yang baik dan mana yang salah, tentang mana yang patut dan mana yang tidak patut dan seterusnya. Oleh karena itu, hukum adat yang sangat  bergantung pada wilayah adat, berfungsi menjaga keharmonisan, bukan saja dalam hubungan antar manusia, melainkan juga hubungan manusia dengan alam. Pengetahuan tentang adat istiadat dan hukum adat dan cara mengimiplementasikannya secara benar sangat penting bagi orang Melayu. Begitu pentingnya adat bagi kaum Melayu sampai-sampai ada pepatah mengatakan “lebih baik mati anak, dari pada mati adat.” Maksudnya, tentu kalau anak meninggal dunia, masih banyak anak lain, tetapi jika adat suatu kaum yang mati atau rusak, maka akan matipulalah kaum itu.
Orang Melayu Kayung adalah puak Melayu yang mendiami wilayah
Kabupaten Ketapang yang meliputi wilayah pantai, pulau-pulau kecil dan pedalaman. Yang disebut orang Melayu Kayung adalah orang yang beragama Islam, berbahasa Melayu serta menggunakan adat istiadat Melayu. Kalau dilihat dari keturunanya, maka Melayu Kayung terdiri atas:
-          Penduduk asli yang beragama Islam
-          Pendatang dari Jawa (Prabu Jaya)
-          Pendatang dari Bugis (Daeng Manambon)
-          Pendatang dari Brunai (Raja Tengah)
-          Pendatang dari Arab
-          Pendatang dari Siak (Tengku Akil)
-          Para pendatang lain yang bergabung dan mengaku dirinya Melayu Kayung
Karena itu adat istiadatnyapun tidak sama, karena menurut turunan mereka masing-masing. Sebagai contoh, kalau anak pertama kali naik ayunan, maka bentuk ayunan antara turunan Bugis dan turunan Banjar sangat berbeda. Begitu juga dalam membuang tembuni bayi, ada yang dibuang ke air dan ada pula yang ditanam dan sebagainya.
Namun demikian adat istiadat tersebut tidak menyebabkan terpecah-pecahnya Melayu Kayung, melainkan ikut memperkaya khasanah budaya Tanah Kayung. Samalah seperti orang yang keturunan bangsawan dengan rakyat  biasa, kendati adat istiadatnya sama, namun ada perbedaan-perbedaan yang cukup banyak, namun semua dapat menerima.
Raja Kerajaan Tanjungpura sebagai pemegang adat tertinggi memang adil. Raja telah memperhitungkan dengan masak-masak, bahwa Raja, Kaum Bangsawan dan Rakyat jelata memiliki kemampuan yang berbeda. Karena itu, maka dengan mengadopsi syariat islam, Raja membagi adat menjadi:
-          Wajib
Melaksanakan adat secara penuh merupakan kewajiban bagi Raja yang maksudnya adalah untuk diketahui oleh seluruh rakyat negeri, serta memberi contoh serta memberi teladan bagi pelaksanaan adat istiadat.
-          Sunnat
Bagi kerabat Raja dan Kaum Bangsawan pelaksanaan adat menjadi sunnat, artinya tidak perlu sama dengan Raja. Pelaksannan tersebut menurut kemampuan kerabat tersebut. Karena kaum bangsawan juga panutan bagi rakyat jelata, maka kaum bangsawan berusaha melaksanakan adat istiadat secara penuh kalau memang sanggup.
-          Jaiz
Bagi rakyat jelata, pelaksanaan adat istiadat itu menjadi jaiz, artinya boleh dikerjakan boleh ditinggalkan sebagian atau seluruhnya berdasarkan kemampuan. Namun ada cara-cara tertentu untuk pelaksanaan yang disingkat atau sekedar diisyaratkan.

Menuliskan kembali adat-istiadat dan hukum adat masyarakat Melayu Kayung, berarti menuliskan kembali kumpulan peraturan yang lazim dipakai dimasa lalu, bahkan sampai sekarang. Meskipun jumlahnya semakin mengecil, maka menunjukkan betapa masyarakat Melayu Kayung pada masa lalu sesungguhnya memiliki sejumlah aturan yang menjadikan hidup mereka harmonis. Kita tidak pernah mendengar atau membaca bahwa dimasa lalu masyarakat Melayu Kayung terlibat dalam konflik dengan suku bangsa lain. Mereka hidup aman, tentram dan harmonis.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apakah saja bentuk kebudayaan yang termasuk dalam prosesi kelahiran bayi pada masyarakat Melayu Kayung?
2.      Apa saja hal yang dipersiapkan dalam pelaksanaan prosesi kelahiran?
3.      Bagaimana bentuk pelaksanaaan prosesi kelahiran bayi bagi masyarakat Melayu Kayung?

C.      Tujuan
1.      Mendeskripsikan bentuk kebudayaan yang termasuk dalam prosesi kelahiran bayi pada masyarakat Melayu Kayung.
2.      Mengetahui hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam pelaksanaan prosesi kelahiran.
3.      Megetahui bentuk pelaksanaan prosesi kelahiran bayi bagi masyarakat Melayu Kayung.

RPP MATEMATIKA SD KELAS EMPAT



Nama  : Suci Qamariah
NIM    : F1081131031
Kelas   : IV (Empat) B Reguler A

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah Dasar             : SDN 31 Pontianak Barat
Mata Pelajaran            : Matematika
Kelas/Semester            : IV/ II
Alokasi Waktu            : 2 x 35 menit
Standar Kompetensi   : Geometri dan Pengukuran
                                        8. Memahami sifat bangun ruang sederhana dan hubungan antar bangun datar            
Kompetensi Dasar        :   8.3. Mengidentifikasi benda-benda dan bangun datar
                                         simetris.
Indikator                      :   8.3.1. Mengidentifikasi ciri bangun datar yang simetris.
                                         8.3.2. Menentukan dua bangun datar yang simetris
                                         8.3.3. Menentukan tiga bangun datar yang tidak simetris
                                         8.3.4. Menentukan sumbu simetri suatu bangun datar.
                                                                                                                      
I.  Tujuan Pembelajaran
1.      Setelah melakukan kegiatan dengan menggunaan model-model gambar bangun datar, siswa dapat megidentifikasi ciri bangun datar yang simetris dengan tepat.
2.      Setelah melakukan kegiatan dengan menggunakan model-model gambar bangun datar, siswa dapat menentukan tiga bangun datar yang simetris dengan tepat.
3.      Setelah melakukan kegiatan dengan menggunakan model-model gambar bangun datar, siswa dapat menentukan dua bangun datar tidak simetris.
4.      Melalui kegiatan tanya jawab dengan menggunakan model-model gambar bangun datar, siswa dapat menentukan sumbu simetri suatu bangun datar dengan tepat.
 Karakter siswa yang diharapkan :  
Rasa ingin tahu , Mandiri, Kreatif, Kerja keras, Demokratis, Tanggung-jawab dan teliti.

BIMBINGAN DAN LAYANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Anak-anak berkebutuhan khusus, adalah anak-anak yang memiliki
keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya, yang membedakan mereka dari anak-anak normal pada umumnya. Keadaan inilah yang menuntut adanya penyesuaian dalam pemberian layanan pendidikan yang dibutuhkan. Keragaman yang terjadi, memang terkadang menyulitkan guru dalam upaya pemberian layanan pendidikan yang sesuai. Namaun apabila guru telah memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai cara memberikan layanan yang baik. Maka akan dapat dilakukan secara optimal.
Pada makalah ini, akan dibahas beberapa prinsip layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, pendekatan-pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk anak berkebutuhan khusus. Fasilitas pembelajaran juga akan menjadi salah satu bahan kajian pada makalah ini untuk mendukung layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus.

B.  Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus?
2.      Apa saja prinsip-prinsip layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus?
3.      Bagaimana cara melakukan pendekatan layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus?
4.      Apa saja yang termasuk kedalam fasilitas pendidikan anak berkebutuhan khusus?

C.  Tujuan
1.      Mendeskripsikan pengertian layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
2.      Mengetahui prinsip-prinsip layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
3.      Megetahui strategi melakukan pendekatan layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
4.      Mengetahui fasilitas pendidikan anak berkebutuhan khusus.